syairku

Goresan
tinta
bait-
bait
puisi
Melantun
indah
syair
di hati
Karya tulus ungkapan rasa
Kutuliskan untukmu, tak akan
pernah berhenti
Berjuta puisi ungkapkan
kejujuran hati
Lantunkan syair dzikirku
untukmu
Memuja mendambakan
kehadiranmu
Hingga bahagia terasa,
mewarnai mengisi
kekosonganku
Lewat goresan tulisan puisi
Kuharap redakan rasa sakit
rinduku
Yang meracuni hingga setiap
getar nadiku
Lewat lantunan syair dan
dzikirku
Kurasakan kasihNya tercipta di
hatimu
Tulus dan sucinya cinta
membuatku bahagia
Tak akan pernah bisa kulupakan..
Mengapa kau masih tutup
hatimu
Kau tutup hingga tak ada sinar
kau berikan
Meski berjuta puisi kutulis
Meski berkali-kali kulantunkan
syair
Menadah rembulan mawarku,
kasihku tak terbatas padamu
Mengapa kau masih keraskan
hatimu
Hingga rasaku tak bisa
menembus rasamu
Begitu perihkah masalalumu
Membuatmu takut terulang
kembali
Kuingin kejujuran hatiku,
membuatmu mengerti tentang
rasa ini..
Kumohon temuilah sekali saja
Sekedar ungkapkan kejujuran di
hati
Rela ku menunngu seumur
hidupku
Untuk sekejab bertemu
denganmu
Walaupun tanpa berharap lebih
darimu
Goresan tinta puisi ini tak akan
berhenti
Meskipun tak juga kau beri
sedikit celah hatimu
Walaupun ragaku terpisahkan
waktu
Lewat lantunan syair dan
puisiku
Pasti kan ku dekap hadirmu di
syurga nanti…

langit malamku

mungkin masih ada bias
cahaya bintang.
langitku masih terang,
memang tak seperti biasa.
tapi cukup indah.
abu.abu langit malamku.
menjemput khayalku
bersama bintang.
yang dulu terang, terindah.
kini terhalang awan
abu.abu. .
singkirkan kabut, wahai
angin. . !
aku ingìn melihatnya. .
dia. . dia bintang terindah. .
sampai saat ini masih
menyimpan cerita. .

LEBIH BAIK BEGITU

Maafkan aku yang memang
redup…
tak pantas mengharap
kemuliaan seorang bidadari
sepertimu
Apabila engkau menutup pintu
dan tak memberi seberkas
cahaya, tak apa
Memang seharusnya begitu…
Dan kiranya aku merangkak
dan kau tak melihatku, tak apa
Memang di luar sana benyak
pujangga yang sanggup
menuliskan ribuan sajak
untukmu
Dan aku hanya memetik bunga
violet dari taman depan
Di luar sana banyak saudagar
yang sanggup mempersem
bahkan villa mewah untukmu
Dan aku hanya bisa
membangun gubuk di desa…
Pun rembulan walau ia tak
bertemu mentari ia tetap
memberikan cahayanya
Dan rembulan dengan senang
hati memantulkannya kembali
demi bumi agar tidak gelap

DIMANA

Semilir angin kian lembab
Lahirkan titik titik embun
diujung dedaunan
Jangkrik bersiul merdu
Sayup suara Ku si burung
hantu
Suasana malam yang kian pekat
nan senyap
Temaniku dalam pilu
Aku tergugu, Gejolak rindu
seolah membeku
Rembulan yang tinggal separuh
Mengintip dari celah jendela
kamarku
Dia pun terlihat agak sendu
Meski tetap tersenyum merayu
Seolah dia tahu gundahku…
Oh rembulan tahukah engkau…
Diujung langit mana dia
terbang?
Tak satupun nampak jejak juga
bayang
Masihkah rindu ini harus ku
genggam
Hingga sampai saat itu
menjelang
Aku mencintainya sepenuh hati
Amat merinduinya meski telah
pergi
Ku hanya ingin bertatap Walau
hanya sekejap
Namun itu takkan mungkin
terjadi
Tidakkah seharusnya rasa ini
telah mati
Dan sirna dari hati ini…
Namun dia tetap bertahta di
palung sanubari…

AKU PERGI

Setelah melintasi waktu
bersimbah pesonamu
Kini semua terasa tiada Makna
yang terendap lama
Dan mendekam dalam gugusan
matahari
Tak lagi bisa kuraba
Semua seperti kembali kosong
Harapanku akanmu,Seperti
menemui titik penghabisannya
Apa gerangan yg terjadi?
Tiba-tiba aku enggan
mengumbar rinduku
Tiba-tiba aku ingin berhenti
mencintaimu
Mungkinkah karena sikapmu yg
makin lama tak lagi membiusku
Perlahan menghilang di balik
dusta
Auramu yg makin pudar oleh
sikap tak pasti
Angkuhmu melemahkanku
Bisumu menyurutkan langkahku
Aku lebih baik pergi

LUKA

Ditengah malam syahdu nan
pekat
Ku teringat pada mu, bayangmu
Selalu melintas di kelopak
mataku
Ku coba untuk melupakanmu
Namun bayang mu, trus
menghampiriku
Sunyiku kau tabur bunga rindu
Kau bagai angin yang sejukkan
Jiwa ragaku…
Namun kini, sia-sia sudah
mahligai cintaku
Mimpi indah tiada lagi, sirna
terbakar
Kayu arang abu…
Ku coba bertanya pada malam
Dia membisu
Angin berlalupun, tak
memberikan
Jawaban,,
Hanya satu yang terucap
Mengapa aku mencintaimu…
Dan mengapa aku terlahir untuk
terluka…
Ku sadar, cinta tak harus
memiliki
Tapi ku tak bisa, ku tak rela
Mungkin ada yang lebih dariku….
Sampai datang masa
pertemukan kita
Untuk kembali, atau terpisah
selamanya…
Sungguh hina diriku
Mencintai orang yang tak
mencintai ku
Dan takkan pernah
menyayangiku..
Mengapa aku di pertemukan
denganmu
Musim gugur dihatiku…
Seakan tumbuh bersemi
Titian cintaku pupus begitu saja
Tiadakah iba dihati mu…
Tiadakah rasa ntuk ku….
Kau berlalu menuju impian mu
yang baru..
Rinduku sudah kau lara…
Sayang ku kini t’lah kau buang
Mungkinkah aku tercipta
Hanya untuk disakiti dan
dihina???
Apakah ini suatu cobaan
untukku??
Apakah ini suatu goresan hati
yang luka??
Yang tak bisa sembuh
Walau penawar vdari mana
pun…
Semoga kau bahagia
Tanpa sosok bayanganku…

DI PINGGIR ASA

Hening terpuruk terikat bayangmu Membatu dalam benak tak mau pergi Mengapa selalu ada bayangmu mengasah tajam Di tepi damba yg berarak menuju hatiku Bersimbah keindahan yg melukis birunya sinar matamu Berpeluh cinta yg mempesonakan bagai sepotong senja Detik ini, aku memeluk hening, untuk dirimu

rindu hadirmu

Mungkin aku memang lemah
Mungkin aku tak pernah punyai
lelah
Saat ku terdiam menangisi
pergimu
Terus ku terpaku oleh harapan
semu
Sepertinya… t’lah cukup banyak
kutulis
T’lah cukup dalam hati ini kuiris
Agar bisa kucoba lagi cinta dari
mula
Dengan ia yang mampu
merasakannya
Namun cinta untukmu terus
bertahan
Di sekeping sisa hati ini pun
cinta untukmu kurasakan
Kerinduan hadirmu tak pernah
bisa hilang
Oh Tuhan… bagaimana semua ini
harus kuartikan ?